Pendidikan sejati di Papua

Posted on

PENDIDIKAN SEJATI DI PAPUA

The object of education is to turn the eye which the soul already posses to the light ( republic,Plato )

Sejak bergabungnya dengan Indonesia tahun 1969 berdasarakan data bebas buta huruf dalam artian bisa baca naik . Kuantitas naik tapi bagaimana dengan kualitas ? Data kemiskinan juga tinggi di Papua berbanding lurus dengan human development index. Tingkat kelulusan SD,SMP dan sma terendah di Indonesia.
Papua sebagai daerah yang tertindas karena operasi militer yang sampai sekarang terus berkutat dengan trauma kekerasan yang terjadi .Tercatat 739 pelanggaran HAM ( data elsham ) dari tahun 1970 sampai sekarang yang belum terselesaikan Ditengah situasi operasi militer bagaimana pendidikan bisa berlangsung dengan baik? Hak pendidikan yang memadai belum diberikan kepada orang Papua .

Pendidikan sendiri memiliki sejarah yang panjang dalam kehidupan manusia. Sejak Jaman Plato memetaforakan manusia sebagai makhluk yang terbelenggu besi dalam goa dan pengetahuan akan membebaskan dari belenggu .
Pendidikan yang mencerahkan sangat penting dalam karya Plato. Negara harus memberikan pendidikan yang terbaik bagi warganya.Tetapi bagi plato pendidikan eksklusif dikhususkan untuk kalangan elite seperti pemuda kaya, berbakat dan dalam lingkungan istana.

Filusuf pendidikan lain yang terkenal ialah John Dewey , tokoh pragmatisme dari Amerika Serikat. Pendidikan menurut Dewey tidak hanya teori tapi harus dialami melalui eksperimen mengalamai atau menemukan pengetahuan di sekolah. Sekolah adalah pusat manusia belajar tentang ilmu pengetahuan dan siswa harus mengalami proses menemukan pengetahuan. Dewey membawa revolusi pendidikan di Amerika karena membuka akses pendidikan untuk semua warga dan negara bertanggung jawab membiayai. Emansipasi murid sangat diperlukan tidak hanya diangggab oyek melainkan menjadi subyek menemukan pengetahuan dibantu guru,ketiga adanya saling berbagi natar siswa dan guru. Ini membawa pendidikan yang emansipatoris dan menjunjungi persamaan hak dalam pendidikan .
Paulo Fraire berangkat dari latar belakang seorang marxis teori fraire mengenai pendidikan berdasarkan dialektika pendidikan. Menurut fraire dialektika harus terwujud dalam hal praksis diawali dari dialog yang sebenarnya antara pendidik dan kaum tertindas.Pemimpin atau pendidik harus mengalami perjumpaan dengan rakyat . Lewat perjumpaan itu pendidik bisa meumuskan apa yang harus dilakukan bersama dalam bentuk praksis pendidikan. Momen pembebasan tejadi saat kaum tertindas menyadari bahwa dirinya tertindas dengan gambaran “ideal”tak sadar mempengaruhinya yaitu penindasan dan dehumanisasi, kesadaran itu menumbuhkan perlawanan atas situasi dalam bentuk praksis.

Apa relevansinya dengan kondisi pendidikan di Papua ? Sebagai daerah yang tertinggal dan tertindas sejak tahun 1969 tidak nampak kemajuan yang berarti. Eksploitasi alam dan manusia dalam bentuk stigmatisasi,kekerasan fisik dan penjajajahan budaya bermuara ke proses dehumanisasi Manusia papua di buat tidak diri terasing dengan kebudayaannya sendiri.Penindasan berupa marjinalisasi budaya masuknya budaya baru yang dianggab lebih superior dibanding budaya papua memperlemah eksistensi manusia papua. Contoh sederhana beras yang tadinya bukan makanan pokok berubah jadi makanan pokok, beras tidak tumbuh di sebagian besar Papua. Eksploitasi alam juga disertai bencana kemanusiaaan yang tidak kalah hebat kasus pelanggaran HAM selalu tinggi di Papua. Ditengah situasi kemanusiaan yang demikian pendidikan sangat berperan dalam membebaskan manusia papua dari penindasan. Pendidikan yang membangkitkan manusia papua sebagai masyarakat yang mampu bertransformasi seperti halnya manusia lain. Pendidikan di Papua harus memberikan memberikan kebenaran dalam sejarah Papua. Manusia harus jadi penentu atas dirinya sendiri itulah pendidikan yang berhasil. Pendidikan sejati seharusnya yang mencerminkan apa yang dialami Papua seperti penindasan kebudayaan, stigmanisasi, trauma dan sekaligus membuka kotak Pandora pelanggaran HAM sehingga tidak menjadi belenggu masa depan Papua.
Kesempatan atas pendidikan yang layak , pendidikan yang menekankan penghargaan atas kemampuan manusia untuk berkembang, ditunjang kondisi sosial masyarakat yang aman dan terbebas dari stigma-stigma yang ada merupakan utopia bagi sebagian besar masyarakat Papua. Ironis di tengah kekayaaan alam yang melimpah ,pendidikan justru terabaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s